ANALISIS & PEMBAHASAN MANAJEMEN

TINJAUAN EKONOMI

TINJAUAN EKONOMI

EKONOMI GLOBAL

Tren positif pertumbuhan ekonomi global yang terjadi sejak sementer kedua tahun 2017 tidak berlanjut di tahun 2018. Ekonomi global tahun 2018 malah diwarnai dengan ketidakpastian. Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok menjadi salah satu faktor yang sangat mempengaruhi perekonomian dunia tahun 2018.

Diawali oleh defisit perdagangan yang diderita AS atas Tiongkok mengakibatkan pemerintah AS membuat kebijakan untuk memberlakukan bea masuk tinggi bagi produk-produk asal Tiongkok. Kebijakan tersebut direspon oleh pemerintah Tiongkok dengan membuat kebijakan yang sama, yaitu memberlakukan bea masuk yang tinggi terhadap produk asal AS, sehingga akhirnya kedua negara terlibat dalam perang dagang.

Perang dagang yang melibatkan dua negara yang menjadi kekuatan utama ekonomi dunia ini memberikan dampak kepada negara-negara lain yang memiliki hubungan dagang dengan kedua negara tersebut. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi global pada semester kedua tahun 2018 berjalan lebih lambat dibandingkan semester pertama.

Pada saat yang bersamaan, Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) membuat kebijakan untuk menaikan suku bunga. Sepanjang tahun 2018, The Fed tercatat 4 kali menaikan tingkat suku bunga acuan, hingga ke level 2,5%. Kenaikan suku bunga The Fed juga berdampak pada kondisi pasar keuangan global, dimana arus investasi lebih mengarah ke instrumen yang cenderung aman (risk aversion), sehingga pasar saham global terkoreksi cukup tajam.

Kondisi ekonomi global semakin menjadi tidak pasti dengan menguatnya nilai tukar Dolar AS terhadap hampir semua mata uang asing, termasuk Rupiah.

Pelemahan ekonomi global tahun 2018 salah satunya tercermin dari melemahnya pertumbuhan ekonomi Tiongkok dengan pertumbuhan sebesar 6,6%, pertumbuhan tersebut menjadi yang terendah dalam 28 tahun terakhir. Perlambatan ekonomi Tiongkok terjadi karena sektor investasi yang lesu dan tingkat kepercayaan konsumen melemah seiring tekanan perdagangan dari AS.

Di kawasan Eropa, sebagian besar negara Uni Eropa mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi Jerman yang merupakan perekonomian terbesar di Eropa melambat tahun 2018. Menurut data Biro Statistik Federal (Statistisches Bundesamt) pertumbuhan ekonomi pada tahun 2018 hanya menyacapai 1,5%, angka terendah sejak lima tahun terakhir. Tahun 2017, pertumbuhan ekonomi masih mencapai 2,2%.

Di lain pihak, ekonomi AS justru mengalami pertumbuhan yang cukup kuat tahun 2018 dengan pertumbuhan sebesar 3,3%, meningkat cukup tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi tahun sebelumnya sebesar 2,2%. Namun demikian, pertumbuhan ekonomi AS diprediksi akan kembali melambat tahun 2019, salah satunya disebabkan dampak dari perang dagang

GLOBAL ECONOMY

The positive trend in global economic growth since the second semester of 2017 did not continue in 2018. The global economy in 2018 was instead colored with uncertainty. The trade war between the United States (US) and China was one of the factors that greatly affected the world economy in 2018.

The deficit suffered by the US in its trade with China made the US government set a policy to impose high import duties on products from China. The Chinese government responded to this policy by doing the same, by imposing high import duty on products from the US, leading to a trade war between the two countries.

Such the trade war involving two countries that are the main forces of the world economy has affected the countries having trade relations with the two countries. As a result, the global economy in the second half of 2018 grew at a slower pace compared to the first semester.

At the same time, the Central Bank of the United States (The Fed) made a policy to raise interest rates. Throughout 2018, the Fed recorded 4 times of raising the benchmark interest rate to the level of 2.5%. The increase in the Fed’s interest rate also had an impact on global financial market conditions, where investment flows were directed towards risk aversion instruments, so that the global stock market was corrected sharply.

The global economic condition was getting more uncertain with the strengthening of the US Dollar exchange rate against almost all foreign currencies, including Rupiah.

The weakening of the global economy in 2018 was reflected in the weakening of China’s economic growth with a growth pace of 6.6%, the lowest in the last 28 years. China’s economic slowdown was due to the sluggish investment sector and the weakening of consumer confidence level inline with the trade pressure from the US.

In the European region, most European Union countries experienced a slowdown in economic growth. Germany, the largest economy in Europe, saw a slowdown in its economic growth in 2018. According to the Federal Statistics Bureau (Statistisches Bundesamt), the country’s economic growth in 2018 only reached the pace of 1.5%, the lowest since the last five years. In 2017, its economy still grew at the pace of 2.2%.

On the flip side, the US economy actually experienced strong growth in 2018, with a growth of 3.3%, increasing quite high compared to the previous year’s economic growth of 2.2%. However, US economic growth is predicted to slow down again in 2019, one of which is due to the impact of the trade war with China.

EKONOMI NASIONAL

Kondisi ekonomi nasional tahun 2018 tidak dapat lepas dari ketidakpastian ekonomi global. Hal ini terlihat pada defisit transaksi berjalan yang terjadi sepanjang tahun 2018. Neraca perdagangan Indonesia tahun 2018 mengalami defisit sebesar 8,6 miliar Dolar AS dalam 2018. Defisit perdagangan tersebut disebabkan pertumbuhan impor yang jauh lebih tinggi dibandingkan ekspor. Sepanjang 2018, ekspor Indonesia tercatat sebesar 180,1 miliar Dolar AS, sedangkan impor mencapai 188,6 miliar Dolar AS.

Ekonomi nasional tahun 2018 juga dipengaruhi oleh pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS. Tren pelemahan Rupiah terlihat di sepanjang tahun 2018 dengan Rupiah rata-rata diperdagangkan di level 14.390 per Dolar AS pada bulan Desember 2018, melemah dibandingkan periode Desember tahun sebelumnya dengan kurs sebesar 13.555 per Dolar AS. Di tengah pelemahan Rupiah ini Bank Indonesia aktif melakukan intervensi pasar dengan menggunakan cadangan devisa. Hal ini terlihat dari tren penurunan cadangan devisa Indonesia dari posisi akhir tahun 2017 sebesar 130,20 miliar Dolar AS menjadi 120,65 miliar Dolar AS di akhir Desember 2018. Dalam hal ini, Bank Sentral mewaspadai risiko ketidakpastian pasar keuangan global dengan melakukan langkah-langkah stabilisasi nilai tukar sesuai nilai fundamentalnya dan menjaga bekerjanya mekanisme pasar dengan didukung upayaupaya pengembangan pasar keuangan. Kebijakan tetap ditopang oleh strategi intervensi ganda dan strategi operasi moneter untuk menjaga kecukupan likuiditas khususnya di pasar uang Rupiah dan valas.

Selain itu, Bank Indonesia juga menaikan tingkat suku bunga 7 Days Repo Rate sebanyak enam kali secara bertahap dari 4.50% menjadi 6,00% yang terbukti mampu menekan laju pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS.

Pemerintah juga telah mengambil sejumlah langkah untuk menekan defisit perdagangan tersebut, salah satunya dengan menekan impor bahan bakar minyak, khususnya jenis solar, melalui kebijakan wajib penggunaan solar dengan campuran 20% biodiesel (B20)

Namun demikian, fundamental ekonomi Indonesia masih relatif kuat dan terjaga dengan pertumbuhan PDB sebesar 5,17% di tahun 2018 dibandingkan 5,07% di tahun sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi ini terutama ditopang oleh pengeluaran konsumsi yang memiliki kontribusi terbesar 54,2% terhadap PDB Indonesia. Hal ini sejalan dengan pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang tumbuh 5,05% menjadi Rp5.651,23 triliun di saat PDB Indonesia tumbuh 5,17% mencapai Rp10.425,3 triliun di tahun 2018.

PDB Indonesia yang tumbuh lebih kuat ini dipengaruhi oleh kenaikan pengeluaran konsumsi yang ditopang oleh pengelolaan inflasi yang baik oleh Pemerintah.

Inflasi di tahun 2018 sebesar 3,13% atau lebih rendah dibandingkan inflasi tahun 2017 sebesar 3,61%. Pencapaian ini sesuai dengan target inflasi yang ditetapkan oleh Bank Indonesia (BI) sebesar 3,5% (±1%). Namun demikian, BI memutuskan menaikkan BI 7-Day Repo Rate sebesar 175bps menjadi 6,00% di akhir tahun 2018 dibandingkan posisi tahun sebelumnya sebesar 4,25%. Kenaikan suku bunga acuan ini bertujuan untuk mempertahankan daya tarik pasar keuangan domestik dan mengendalikan defisit transaksi berjalan dalam batas yang aman.

Indonesia juga mampu membukukan realisasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) maupun Penanaman Modal Asing (PMA) yang meningkat di tahun 2018 meski menghadapi tantangan perekonomian global. Total realisasi investasi di tahun 2018 mencapai Rp721,30 triliun atau tumbuh 4,11% dibandingkan Rp692,9 triliun di tahun sebelumnya. Kenaikan ini sejalan dengan pertumbuhan investasi PMDN menjadi Rp328,6 triliun di tahun 2018, dari sebesar Rp262,3 triliun di tahun 2017. Sementara itu, investasi PMA turun 8,8% dari posisi tahun 2017 sebesar Rp430,5 triliun menjadi Rp392,7 triliun di tahun berikutnya.

Dunia internasional memberikan pengakuan atas fundamental ekonomi Indonesia yang kuat dan mampu bertahan di tengah tantangan global baik ekonomi dan geopolitik di sepanjang tahun 2018. Lembaga pemeringkat internasional Moody’s telah menaikkan peringkat utang negara Indonesia menjadi Baa2/ stable outlook dari Baa3/positive outlook pada tanggal 13 April 2018. Sebelumnya, Rating and Investment, Inc dan Japan Credit Rating Agency juga menaikkan peringkat utang negara Indonesia menjadi BBB/stable outlook dari BBB-/ positive outlook pada bulan Maret dan Februari di tahun yang sama.

INDUSTRI KONSTRUKSI

Sejalan dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019, tahun 2018 pemerintah terus melanjutkan program pembangunan infrastruktur di berbagai wilayah di tanah air untuk memperluas konektivitas antar-daerah dan menciptakan lapangan kerja. Pembangunan infrastruktur merupakan salah satu corak utama dalam program nawacita pemerintah.

Tahun 2018, Pemerintah menganggarkan Rp410 triliun untuk pengembangan infrastruktur di berbagai daerah. Jumlah tersebut mencapai 18,5% dari total APBN 2018 sebesar Rp2.220,7 triliun. Dana tersebut akan dialokasikan kepada Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) sebesar Rp104,7 triliun, Kementerian Perhubungan sebesar Rp44,2 triliun, Dana Alokasi Khusus (DAK) sebesar Rp33,9 triliun dan investasi pemerintah (PMN dan LMAN) sebesar Rp41,5 triliun.

Anggaran tersebut dialokasikan untuk pembangunan jalan baru, jalan tol, jembatan, sarana kereta api, bandar udara, pelabuhan dan berbagai infrastruktur lainnya.

Pembangunan infrastruktur memiliki kaitan yang sangat erat dengan industri konstruksi. Dalam beberapa tahun terakhir, pasar industri konstruksi mengalami pertumbuhan yang sangat baik. Tahun 2018, berdasarkan data Biro Pusat Statistik (BPS), pasar industri konstruksi diprediksi mencapai Rp450 triliun tumbuh 3% dibandingkan tahun sebelumnya. Dari total pasar tersebut, 65% di antaranya merupakan pekerjaan sipil dan 35% merupakan pekerjaan bangunan atau gedung.

Di tingkat Asia, Indonesia berada diurutan keempat setelah China menjadi yang terbesar, di mana pangsa pasar jasa konstruksinya memiliki potensi senilai 1,78 triliun Dolar AS. Disusul oleh pasar konstruksi Jepang senilai 742 miliar Dolar AS, kemudian India 427 miliar Dolar AS, dan Indonesia senilai 267 miliar Dolar AS.

Hal ini pun menjadi harapan bagi sektor konstruksi sebagai salah satu motor penggerak pertumbuhan ekonomi Indonesia. Infrastruktur dan konstruksi yang saat ini digenjot oleh pemerintah diharapkan jadi motor penggerak ekonomi nasional di saat sektor lainnya sedang alami pelemahan.

138
HK Annual Report 2018